Posts

I Don't Know Why, Just Help(?)

If only I could say something to someone right now, it would be "help!" or "why?".

I don't know who would give me a help or tell me why.

I know that a help could come in terms of a person, a thing, a situation, or anything.

Sadly, I have no idea what do I need (or even that I want)

Help me by stay around cause it's hard for me to get all by myself.
Please...
I'm begging you.

I know some questions better left unanswered.

But why?
Why do I keep feeling hurt?
Why is it so hard to be (so-called) happy or even just to be simply ok?

"I Met Her in The Funeral."

“I met her in the funeral.”
Been years since the last time I heard your voice that clear.
“I met her in the funeral.”
Never thought that I would get hurt like this just to hear you talking about someone else.
“I met her in the funeral.”
Your smiling voice, those sparkling eyes… As you remembered that time you met her.
“I met her in the funeral.”
There were times when I saw you with other ones, looked happily, but this one was more suffocating.
“I met her in the funeral.”
Tell me more, I want to know.
I met her in the funeral.”
Here I am wondering if the word 'funeral' meant that I should bury all of my feelings to you.

Dari Aplikasi Turun Ke Hati

Bosan mengoceh di media sosial membuat saya terpikir mencari kesenangan dengan beralih ke aplikasi kencan dan pencari jodoh yang cukup populer. Sebenarnya saya tidak berharap apapun apalagi sampai memasang target untuk berkenalan bahkan hingga bertemu seseorang, tapi sepertinya tidak ada yang salah.
Toh, siapa yang tahu...
Ternyata keberuntungan saya di aplikasi ini cukup bagus. Sejak kemarin saya pertama kali membuat akun, sudah ada beberapa orang yang "cocok" dan kebetulan kesan pertamanya cukup menyenangkan untuk diajak mengobrol lebih lanjut.
Orang yang pertama bernama Rino, seorang sutradara video klip yang juga sering menangani acara fashion show  hingga yang bertaraf internasional. Ya, saya sadar bahwa sepertinya dia terlalu keren untuk sekadar dijadikan teman bertukar pikiran perihal ini dan itu di kepala yang sebagian besar hanyalah berisi hal absurd.
Ah, sudahlah. Siapa yang tahu...
Orang yang kedua bernama Putra, seorang arsitek yang baru saja pulang liburan dari Eropa …

Ujug-Ujug...

Akhirnya saya kembali di sini.
Memang sudah seharusnya, sesuai niat awal saya sejak pertama kali membuat blog ini. Sayangnya ternyata saya tidak hanya buruk dalam hal berkomitmen dengan orang lain, tetapi juga dengan diri sendiri. Rasanya terlalu sering saya mengkhianati janji yang saya buat untuk diri sendiri. Lucunya, saya justru akan sedemikian hancur saat orang lain memperlakukan saya seperti itu.
Dasar bodoh!
Jadi, adakah hal menarik yang akan saya bagikan di sini?
Tentu saja tidak.
Lalu apa yang mau saya katakan?
Saat tulisan ini dimulai, ada satu hal yang saya katakan pada diri sendiri.
Saya takut akan menghabiskan sisa hidup saya seperti ini.
Entah apa yang membuat saya terpikir untuk bicara seperti itu dalam perjalanan menuju ruang kerja di lantai tiga dari toilet di lantai dua, yang jelas setelahnya pikiran saya menjadi tidak karuan.
Ya, saya takut.

Happy Belated Birthday!

Lima menit yang lalu aku melihat sekilas ada amplop kuning terselip di lipatan bajuku saat sedang membuka lemari.

Samar-samar aku berusaha mengingat apa isinya.
Ternyata sebuah surat pendek, bertuliskan tulisan tanganku yang cukup rapi.
Hari ini...
Maaf karena tidak menepati janji untuk membelikan beberapa hal yang kau inginkan. Maaf karena tidak memungkinkan untukmu pergi ke tempat yang juga kau inginkan. Maaf karena seperti biasa kau harus menerima kenyataan bahwa kau memang terlupakan. Maaf karena lagi-lagi kau berbeda.
Tidak apa-apa. Toh, ini bukan lagi hal hal baru. Tidak apa-apa. Bahkan, satu-satunya distraksimu bermasalah. Tidak apa-apa. Masih ada beberapa menit lagi, nikmatilah dalam kesendirianmu. Tidak apa-apa. Meski sulit, berjanjilah bahwa kau tidak akan menganggap hal ini sebagai hal besar. Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memaksa untuk dapat bahagia, cukup lakukan yang terbaik sebisamu.
Terima kasih untuk bertahan.
Selamat ulang tahun.
Ini surat yang kutulis setahun yang lalu.
Malam itu aku me…

Menikah Karena Muda(h)

Belakangan ini ada hal yang cukup menarik perhatian sekaligus mengusik pikiran saya dan membuat saya mengaitkannya kesana kemari, yaitu tentang pernikahan. Sebagai orang yang belum menikah (dalam waktu dekat), mungkin saya akan terkesan sok tahu karena dengan beraninya mengangkat topik ini ke permukaan. Bukan, bukan maksud saya untuk seperti itu, ini hanyalah sebuah persepsi dan tidak untuk menyorot mereka yang sudah lebih dulu dan lebih lama menjalani fase ini.
Ada yang bilang menikah saja dulu kalau memang sudah siap dari sisi finansial, masalah rasa akan tumbuh dengan sendirinya. Ada juga yang bilang perasaan dan kesiapan psikologis adalah modal utama sebuah pernikahan.
Menurut saya, kehidupan pernikahan dengan segala ini-itu di dalamnya tidak semudah sekaligus tidak sesulit yang dilihat atau didengar. Itulah sebabnya diperlukan pemikiran matang sekaligus pembicaraan panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, bahkan dengan orang yang mungkin sudah saling mengenal dan berhubun…

March, Too, Shall Pass...

Hai Maret,
Akhirnya hari ini terakhir kita sama-sama di tahun ini. Yaaaaaaay!!! \o/
Maaf jika saya terlihat begitu semangat tapi memang demikian adanya.
Hari ini izinkan saya menggambarkan seputar tiga puluh satu hari kebersamaan kita. Saya tidak pernah merasa sedemikian hancur, bingung, putus asa, lelah, sedih, sendiri, sekaligus kuat, beruntung, atau entah apa lagi yang bisa menggambarkan perasaan saya selama satu bulan terakhir.Saya mendapat pengalaman dan pemikiran baru tentang hal-hal yang tidak pernah saya (mau) tahu tapi ternyata cukup menarik sebagai pembelajaran hidup.Saya menyangkal diri perihal perasaan saya. Sulit dan tidak enak, tapi sepertinya saya mampu melewatinya.Mungkin kira-kira seperti itu artimu bagi saya.
Tidak, saya tidak akan mengeluh lagi untuk semuanya. Sudah cukup. Toh, kamu pun pasti sudah sangat bosan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti "mengapa harus seperti ini?", "mengapa selalu saya?", dan semacamnya yang teramat sering saya lontarkan m…